PASURUAN — Kebakaran hutan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, semakin mengkhawatirkan. Hingga Sabtu (17/10/2026) petang, kobaran api dilaporkan telah menyebar ke 11 titik di kawasan Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit.
Dampaknya tidak lagi sebatas kerusakan kawasan hutan, tetapi mulai mengganggu kebutuhan dasar masyarakat.
Berdasarkan laporan relawan pemadam kebakaran Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, tujuh titik kebakaran berada di kawasan Gunung Arjuno, sementara empat titik lainnya teridentifikasi di Gunung Ringgit.
Api yang mulai terpantau sejak Kamis (15/10) sore itu belum berhasil dipadamkan hingga laporan terakhir pada Sabtu petang.
Kebakaran mulai menimbulkan persoalan serius bagi warga.
Jaringan pipa yang mengalirkan air bersih menuju Desa Jatiarjo dan sebagian wilayah Desa Dayurejo dilaporkan rusak akibat terjangan api. Infrastruktur yang dibangun secara swadaya tersebut selama ini menjadi salah satu penopang kebutuhan air masyarakat.
Kepala Desa Jatiarjo, Muhammad Hudan Dardiri, membenarkan kerusakan jaringan distribusi air tersebut. Warga kini berharap api segera terkendali agar kerusakan tidak semakin meluas dan perbaikan saluran air dapat segera dilakukan.
Situasi di kawasan pegunungan juga memaksa petugas mengambil langkah pengamanan. Sebanyak 110 pendaki dilaporkan telah dievakuasi melalui jalur Kop-Kopan untuk menghindari risiko kebakaran.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut menutup seluruh jalur pendakian Arjuno-Welirang sejak Sabtu (17/10) hingga waktu yang belum ditentukan.
Di tengah ancaman api yang terus meluas, proses pemadaman masih menghadapi kendala. Sebanyak 27 personel gabungan dari unsur penanggulangan bencana, kehutanan, Manggala Agni, dan relawan dikerahkan.
Mereka mengandalkan pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar di sejumlah lokasi yang dapat dijangkau melalui jalur darat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menjelaskan bahwa penggunaan pompa air berkapasitas besar belum memungkinkan.
Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran masih bertumpu pada tenaga petugas di lapangan.
Hingga Minggu (18/10/2026) pagi, belum ada kepastian mengenai total luas kawasan yang terbakar. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kebakaran hutan bukan semata persoalan hilangnya vegetasi, tetapi juga ancaman nyata terhadap keselamatan dan akses air bersih masyarakat.
Penanganan api serta pemulihan infrastruktur warga kini menjadi dua kebutuhan mendesak yang tidak dapat dipisahkan.
(Red)
