PASURUAN — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Dalam beberapa hari terakhir, kobaran api dilaporkan melanda lima kawasan pegunungan dan hutan lindung. Tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, kebakaran tersebut juga dikhawatirkan merembet ke jaringan pipa air bersih yang menjadi salah satu penopang kebutuhan masyarakat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan mencatat kebakaran terjadi di kawasan Gunung Bromo, Gunung Putus, Gunung Tumpeng, hutan lindung Lumbang, serta Gunung Arjuno. Sejumlah titik api masih dalam penanganan hingga Sabtu (17/10/2026).
Situasi paling mengkhawatirkan terjadi di Gunung Putus, Kecamatan Tutur, dan kawasan Gunung Arjuno yang apinya dilaporkan merambat hingga Gunung Ringgit.
Di tengah upaya petugas mengendalikan kobaran api, keterbatasan peralatan dan sulitnya akses menuju lokasi kebakaran menjadi tantangan serius. Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan penanganan karhutla pada wilayah pegunungan yang berulang kali menghadapi ancaman serupa.
Lima Kawasan Terbakar, Sejumlah Titik Api Belum Padam
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menjelaskan bahwa penanganan kebakaran telah berlangsung sejak Kamis (15/10/2026).
Di kawasan Gunung Bromo, api dilaporkan muncul di Petak Kesemin, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, pada Jumat (16/10/2026).
Kebakaran kemudian merambat menuju kawasan Lemah Pasar. Kondisi medan yang curam dan tiupan angin kencang menyulitkan petugas mendekati titik api.
Sementara itu, kebakaran juga terjadi di Gunung Tumpeng, tepatnya di Dusun Kejoren, Desa Gerbo, Kecamatan Purwodadi. Berbeda dengan sejumlah kawasan lain, api di lokasi tersebut dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Adapun titik kebakaran di kawasan hutan lindung wilayah Pacar, Desa Wonorejo, Kecamatan Lumbang, masih berada dalam pemantauan petugas.
Meski beberapa titik mulai terkendali, BPBD belum menyatakan seluruh kebakaran di lima kawasan tersebut telah berhasil dipadamkan.
Gunung Putus Terbakar, Jaringan Air Bersih Desa Ngadirejo Terancam
Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian serius terjadi di kawasan Gunung Putus atau Bukit Premium, Kecamatan Tutur.
BPBD melaporkan api di kawasan tersebut masih menyala dan berpotensi menjalar menuju jaringan pipanisasi yang menyalurkan air bersih ke Desa Ngadirejo.
Ancaman tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena jaringan perpipaan memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan air masyarakat.
Apabila kobaran api mencapai dan merusak fasilitas tersebut, terdapat risiko terganggunya distribusi air bersih.
Namun, hingga laporan yang diperiksa pada Sabtu (17/10/2026), belum terdapat konfirmasi bahwa jaringan pipanisasi telah rusak atau aliran air menuju Desa Ngadirejo terhenti.
Kondisi ini menjadi alasan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pengamanan fasilitas air bersih sekaligus memastikan kesiapan penanganan apabila kebakaran semakin mendekati jaringan tersebut.
Terlebih, sejumlah wilayah Kabupaten Pasuruan juga menghadapi persoalan keterbatasan air bersih selama musim kemarau.
Api Merambat hingga Gunung Ringgit, Pemadaman Masih Mengandalkan Tenaga Manual
Di kawasan Gunung Arjuno, situasi belum sepenuhnya terkendali.
Kebakaran yang berlangsung sejak 15 Oktober dilaporkan merambat hingga kawasan puncak Gunung Ringgit pada Jumat malam (16/10/2026).
Sejumlah titik kebakaran teridentifikasi di sekitar Desa Jatiarjo dan Dayurejo, Kecamatan Prigen.
Area yang terdampak antara lain Puthuk Bulak, Gua Gambir, Tung Wulung, Anjat, Gunung Ringgit, hingga Blok Gumandar.
BPBD menyatakan api di arah Bawangan telah berhasil dipadamkan. Namun, sejumlah titik lain masih memerlukan penanganan, termasuk yang mengarah ke kawasan puncak dan wilayah atas Jendela Langit.
Petugas berupaya mengendalikan kebakaran dengan membuat sekat bakar serta melakukan pemadaman langsung pada titik-titik yang masih dapat dijangkau.
Kondisi medan yang terjal, berbatu, dan sulit diakses kendaraan membuat proses pemadaman tidak dapat dilakukan seperti penanganan kebakaran pada wilayah permukiman.
Situasi semakin sulit karena angin kencang dapat menyebabkan api bergerak cepat mengikuti kondisi vegetasi dan arah lereng.
Puluhan Petugas Dikerahkan, Dukungan Pemadaman Udara Dibutuhkan
BPBD Kabupaten Pasuruan bersama BPBD Jawa Timur, pengelola Taman Hutan Raya Raden Soerjo, polisi hutan, Manggala Agni, serta unsur terkait terus melakukan penanganan.
Sebanyak 27 personel gabungan dilaporkan diterjunkan untuk melaksanakan pemadaman dari jalur darat di kawasan Arjuno-Ringgit pada Sabtu (17/10/2026).
Petugas menggunakan peralatan manual karena penggunaan pompa air berkapasitas besar belum memungkinkan.
Menurut Sugeng, peralatan pompa berkapasitas besar saat ini diprioritaskan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.
BPBD Pasuruan juga berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan BNPB untuk mengupayakan dukungan helikopter pemadam melalui metode water bombing.
Kebutuhan tersebut muncul karena sebagian titik api berada pada lokasi yang sulit dijangkau petugas darat.
Namun, hingga perkembangan yang tersedia, dukungan helikopter untuk lokasi kebakaran Arjuno belum dapat dipastikan.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya pemerataan kesiapan peralatan penanggulangan kebakaran, terutama bagi daerah yang memiliki kawasan hutan luas dan medan pegunungan berisiko tinggi.
Jalur Pendakian Ditutup, 29 Pendaki Dilaporkan Berhasil Dievakuasi
Kebakaran di kawasan Arjuno juga berdampak terhadap kegiatan pendakian.
Pengelola menutup sementara seluruh jalur pendakian Arjuno-Welirang sejak Sabtu (17/10/2026) demi keselamatan pengunjung.
Dalam perkembangan terpisah, sebanyak 29 pendaki yang sebelumnya dilaporkan berada di kawasan terdampak kebakaran disebut telah berhasil dievakuasi melalui jalur Kop-Kopan.
Kepala Pelaksana BPBD Pasuruan menyampaikan bahwa informasi tersebut masih bersifat sementara dan pihaknya terus berkoordinasi dengan posko penanganan kebakaran.
Kondisi masing-masing pendaki setelah evakuasi masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut dari petugas.
Penutupan jalur pendakian menjadi langkah pencegahan agar wisatawan tidak memasuki kawasan yang masih berisiko mengalami perluasan kebakaran.
Kebakaran Berulang, Kesiapan Penanganan Perlu Dievaluasi
Kebakaran hutan di kawasan pegunungan Pasuruan bukan persoalan yang baru terjadi.
Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan Gunung Bromo dan Arjuno-Welirang berulang kali menghadapi kebakaran yang membutuhkan pengerahan personel serta dukungan peralatan pemadam.
Berulangnya kejadian tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi efektivitas pencegahan dan kesiapan respons darurat.
Penguatan sistem deteksi dini, pemetaan titik rawan kebakaran, penyediaan sumber air, jalur akses petugas, serta kesiapan peralatan pemadam menjadi kebutuhan yang patut diprioritaskan.
Selain itu, perlindungan terhadap fasilitas publik di sekitar kawasan hutan, termasuk jaringan pipanisasi air bersih, perlu dimasukkan dalam perencanaan mitigasi kebakaran.
Pemerintah juga harus memastikan petugas memiliki perlindungan keselamatan memadai ketika menjalankan operasi di medan yang sulit.
Meski demikian, penyebab kebakaran di masing-masing kawasan belum dapat disimpulkan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Tidak seluruh kebakaran hutan dapat langsung dikaitkan dengan pembakaran yang disengaja atau kelalaian pihak tertentu.
Api Belum Sepenuhnya Padam, Masyarakat Diminta Waspada
BPBD Kabupaten Pasuruan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan perluasan kebakaran.
Warga juga diimbau mendukung penanganan dengan segera melaporkan kemunculan titik api baru kepada petugas berwenang.
Sementara itu, koordinasi antarlembaga terus dilakukan untuk mempercepat pengendalian kebakaran di lokasi yang belum dapat dijangkau.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kerusakan akibat karhutla tidak hanya berhenti pada hilangnya vegetasi dan terganggunya ekosistem.
Ketika api mendekati fasilitas penyedia air bersih dan kawasan aktivitas masyarakat, dampaknya berpotensi meluas menjadi persoalan pelayanan dasar dan keselamatan publik.
Karena itu, penanganan kebakaran di lima kawasan Pasuruan tidak cukup hanya berfokus pada upaya memadamkan api. Pemerintah juga perlu memastikan perlindungan terhadap masyarakat, petugas, dan fasilitas vital yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Sebab, ketika hutan terbakar dan sumber air warga ikut terancam, persoalannya bukan lagi semata kerusakan lingkungan, melainkan juga ketahanan masyarakat menghadapi bencana yang terus berulang.
(Red)
