MOJOKERTO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berhadapan dengan pertanyaan serius soal keamanan pangan. Sebanyak 44 siswa SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, mengalami sakit perut, pusing, mual, muntah hingga diare setelah sebelumnya menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah.
Keluhan mulai dirasakan sebagian siswa sejak Selasa malam, 6 Oktober 2026, dan berlanjut keesokan harinya. Sebanyak 17 siswa sempat dibawa ke fasilitas kesehatan, sementara siswa lain dengan gejala lebih ringan mendapat penanganan di sekolah.
Menu yang dikonsumsi para siswa terdiri atas nasi, sate ayam, saus kacang, acar timun-wortel, serta buah. Sejumlah siswa mengaku sate ayam yang mereka santap memiliki rasa asam dan aroma tidak sedap. Kesaksian tersebut kini menjadi bagian yang ikut ditelusuri, tetapi belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa makanan itulah penyebab gangguan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto telah mengambil sampel makanan serta muntahan siswa untuk diperiksa di laboratorium. Kepala Dinas Kesehatan Mojokerto Dyan Anggrahini Sulistyowati meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab sebelum hasil pengujian keluar. Sekitar 1.500 porsi dari tahap produksi yang sama disebut didistribusikan ke dua sekolah, sementara laporan gangguan kesehatan sejauh ini berasal dari 44 siswa SMPN 1 Mojoanyar.
Dimasak Pagi, Dimakan Siang
Di luar pertanyaan mengenai penyebab medis, satu hal layak mendapat perhatian: rentang waktu pengolahan hingga makanan dikonsumsi siswa.
Kepala SPPG Jabon Mojoanyar menyebut makanan mulai dimasak sekitar pukul 05.00 WIB dan didistribusikan sekitar pukul 11.00 WIB. Berdasarkan keterangan yang dihimpun, makanan kemudian disantap siswa sekitar pukul 14.00 WIB. Artinya, terdapat rentang sekitar sembilan jam dari proses memasak hingga konsumsi.
Jeda tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab siswa sakit. Namun dalam program penyediaan makanan massal untuk anak sekolah, persoalan waktu, suhu penyimpanan, distribusi, dan kondisi makanan sebelum disantap semestinya menjadi bagian penting yang diperiksa.
Badan Gizi Nasional sendiri beberapa hari sebelumnya mengumumkan uji coba sistem penyajian baru yang salah satu tujuannya adalah memperpendek jeda antara proses memasak dan konsumsi agar makanan dapat diterima dalam kondisi lebih hangat dan segar.
Ketika Siswa Mengeluh Makanan Aneh, Sistem Pengawasan Dipertanyakan
Pihak SPPG menyatakan telah meminta sekolah melaporkan apabila ada makanan yang rasanya tidak normal atau dianggap tidak layak dikonsumsi. SPPG juga menyebut tidak menerima laporan sebelumnya mengenai sate ayam yang bermasalah.
Namun justru di titik itulah evaluasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang terlambat melapor.
Jika makanan untuk ratusan anak memang melewati mekanisme pengecekan sebelum dibagikan, maka perlu dijelaskan secara terbuka bagaimana prosedur pemeriksaan makanan dijalankan, siapa yang melakukan pengecekan, kapan makanan diperiksa, serta apa tindakan yang harus dilakukan ketika terdapat perubahan rasa, aroma ataupun kondisi fisik makanan.
Program dengan skala sebesar MBG tidak cukup hanya mengandalkan pesan kepada siswa agar tidak memakan makanan yang dianggap aneh. Sistem keamanan pangan seharusnya bekerja sebelum makanan sampai ke tangan anak.
Bukan Pertama Kali Mojokerto Disorot
Kasus terbaru ini juga muncul ketika persoalan keamanan MBG sebelumnya pernah menjadi sorotan di Mojokerto.
Pada Januari 2026, DPRD Jawa Timur menyoroti laporan 261 penerima MBG di Mojokerto yang terdampak dalam dugaan keracunan dan mendesak evaluasi menyeluruh terhadap SPPG, mulai dari bahan baku, proses pengolahan hingga distribusi makanan.
Catatan tersebut membuat peristiwa di SMPN 1 Mojoanyar tidak bisa dipandang sebatas angka 44 siswa yang sakit. Setiap kejadian baru semestinya menjadi ujian terhadap apakah evaluasi sebelumnya benar-benar menghasilkan perubahan di lapangan.
Meski demikian, penyebab gangguan kesehatan 44 siswa SMPN 1 Mojoanyar tetap harus menunggu hasil investigasi medis dan laboratorium. Sampai bukti ilmiah keluar, menyatakan mereka telah “keracunan MBG” sebagai fakta final akan terlalu dini.
Yang sudah terang adalah puluhan anak mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang disediakan melalui program negara. Karena itu, pertanyaan mengenai pengolahan, waktu distribusi, penyimpanan, pengecekan kualitas, hingga pengawasan SPPG bukan bentuk serangan terhadap program MBG.
Sebaliknya, pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar tujuan memberi makanan bergizi kepada anak tidak kehilangan satu unsur yang sama mendasarnya: makanan itu harus aman ketika sampai di meja siswa.
(Red)
