Ingin investasi properti di Pasuruan? Klik DI SINI

Jawa Timur Kian Terik, Suhu Tembus 37,2 Derajat Celsius: BMKG Ingatkan Ancaman Dehidrasi hingga Kekeringan

 

Foto ilustrasi

SURABAYA — Cuaca panas menyengat masih membayangi sejumlah wilayah Jawa Timur. Suhu udara yang menembus 37 derajat Celsius membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum mencapai 37,2 derajat Celsius di kawasan Lanud Iswahyudi, Maospati, Kabupaten Magetan, yang berbatasan dengan wilayah Madiun, Selasa (13/10/2026).

Tingginya suhu udara juga tercatat di beberapa daerah lain. Kondisi tersebut memperpanjang periode cuaca panas yang dirasakan masyarakat Jawa Timur sejak awal Oktober.

Fenomena ini menjadi perhatian karena tidak hanya berpengaruh terhadap kenyamanan beraktivitas, tetapi juga meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, serta kebutuhan air masyarakat di tengah musim kemarau yang belum berakhir.

Suhu Tinggi Melanda Sejumlah Daerah di Jawa Timur

Berdasarkan data pengamatan BMKG yang dilaporkan pada Selasa (13/10/2026), suhu maksimum tertinggi tercatat di kawasan Lanud Iswahyudi sebesar 37,2 derajat Celsius.

Sementara itu, alat pemantau cuaca otomatis atau Automatic Weather Station (AWS) di Lamongan mencatat suhu 37 derajat Celsius.

Di Kabupaten Ngawi, tepatnya wilayah Paron, suhu maksimum mencapai 36,7 derajat Celsius. Kondisi serupa terjadi di Bojonegoro yang mencatat 36,6 derajat Celsius dan Nganjuk sebesar 36,5 derajat Celsius.

Perbedaan suhu antarwilayah dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kondisi geografis, tutupan awan, vegetasi, dan karakteristik permukaan wilayah.

Data tersebut sekaligus menunjukkan bahwa cuaca panas tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan seperti Surabaya, melainkan juga dirasakan di sejumlah daerah pedalaman Jawa Timur.

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Menyengat

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Rendy Irawadi, menjelaskan bahwa suhu tinggi yang terjadi berkaitan dengan posisi matahari yang berada dekat dengan wilayah Jawa Timur.

Kondisi tersebut meningkatkan intensitas penyinaran matahari yang diterima permukaan bumi.

Sebelumnya, Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani, juga menjelaskan bahwa periode cuaca panas di Jawa Timur diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2026.

Selain pengaruh posisi semu matahari, kondisi atmosfer yang relatif kering dan minimnya tutupan awan dapat menyebabkan radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.

Meski demikian, BMKG tidak menyatakan bahwa seluruh wilayah Jawa Timur akan mengalami suhu yang sama. Kondisi cuaca tetap bervariasi menurut lokasi dan waktu pengamatan.

Panas Berkepanjangan, Masyarakat Diminta Waspada

Suhu udara yang tinggi membutuhkan perhatian khusus, terutama bagi pekerja konstruksi, petani, pedagang kaki lima, pengendara, serta masyarakat yang menjalankan aktivitas berat di luar ruangan.

Paparan panas dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan tubuh, kelelahan akibat panas, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius apabila tidak segera ditangani.

BMKG mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh, mengurangi paparan langsung sinar matahari pada jam-jam terik, serta menggunakan perlindungan seperti topi, pakaian yang sesuai, dan tabir surya.

Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu, juga perlu mendapatkan perhatian lebih.

Masyarakat diminta mengenali gejala gangguan kesehatan akibat panas, seperti rasa haus berlebihan, pusing, lemas, sakit kepala, dan mual.

Apabila muncul gejala berat seperti kebingungan, penurunan kesadaran, atau kondisi tubuh yang memburuk, pertolongan medis harus segera dicari.

Kemarau Belum Berakhir, Ancaman Kekeringan Masih Mengintai

Cuaca panas yang terjadi saat ini juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi musim kemarau yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

Dalam prakiraan cuaca periode 13–19 Oktober 2026, BMKG menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Jawa masih berpotensi mengalami curah hujan relatif rendah.

Situasi tersebut membuat masyarakat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan.

Bagi daerah-daerah Jawa Timur yang selama ini mengalami kesulitan air bersih saat kemarau, kondisi cuaca kering menjadi alasan penting untuk memperkuat kesiapan distribusi dan pengelolaan sumber air.

Namun, suhu udara tinggi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator terjadinya kekeringan. Penilaian kondisi kekeringan tetap harus memperhitungkan curah hujan, ketersediaan air, serta karakteristik wilayah.

BMKG juga mengingatkan bahwa hujan lokal masih mungkin terjadi meskipun kondisi kemarau secara umum masih berlangsung.

Pemerintah Daerah Perlu Antisipasi Dampak Cuaca Panas

Cuaca panas berkepanjangan seharusnya tidak hanya menjadi informasi prakiraan yang disampaikan kepada masyarakat setiap hari.

Pemerintah daerah juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan, kebutuhan air, aktivitas pendidikan, hingga keselamatan pekerja lapangan.

Penyebarluasan informasi mengenai pencegahan dehidrasi, penyediaan akses air minum, dan pengaturan aktivitas luar ruangan menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Sementara itu, wilayah yang berulang kali mengalami kekeringan membutuhkan penanganan lebih berkelanjutan, terutama melalui perlindungan sumber air dan peningkatan infrastruktur penyediaan air bersih.

Antisipasi penting dilakukan agar dampak cuaca panas tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan dan pelayanan dasar yang lebih luas.

Suhu Tinggi Bukan Berarti Gelombang Panas

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat, perlu dibedakan antara cuaca panas dengan fenomena gelombang panas atau heatwave.

BMKG menjelaskan bahwa gelombang panas memiliki kriteria meteorologis tertentu, antara lain kenaikan suhu yang tidak biasa dan berlangsung selama beberapa hari berturut-turut.

Karena itu, pengamatan suhu 37 derajat Celsius atau lebih tidak otomatis berarti Jawa Timur sedang mengalami gelombang panas.

Meskipun demikian, masyarakat tetap harus mengantisipasi dampak suhu tinggi terhadap aktivitas dan kesehatan sehari-hari.

Sebab, persoalan cuaca panas bukan hanya seberapa tinggi angka yang tercatat pada termometer, tetapi juga seberapa siap masyarakat dan pemerintah mengantisipasi dampaknya, terutama ketika musim kemarau belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

(Red) 

Lebih baru Lebih lama