SURABAYA — Rentetan bencana banjir dan tanah longsor melanda sedikitnya enam kabupaten di Jawa Timur setelah hujan deras mengguyur sejumlah wilayah sejak awal November 2026. Lumajang menjadi salah satu daerah dengan dampak paling luas. Selain merendam permukiman, terjangan air dan material longsor merusak infrastruktur, memutus akses jalan, serta mengganggu aktivitas masyarakat.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, enam wilayah terdampak meliputi Kabupaten Lumajang, Malang, Pacitan, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi. Di Lumajang, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui jumlah warga terdampak menjadi 1.567 kepala keluarga (KK) pada Selasa (3/11/2026), meningkat dari pendataan sebelumnya sebanyak 1.417 KK.
Kondisi serius terjadi di kawasan sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru. Hujan berintensitas tinggi memicu peningkatan debit Sungai Glidik hingga menyebabkan banjir lahar hujan, kerusakan tanggul, dan terputusnya sejumlah akses penghubung. Sebanyak 117 KK di Dusun Tamansari, Kecamatan Tempursari, sempat terisolasi. Tiga rumah dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian teras, sedangkan sepuluh rumah lainnya terancam akibat gerusan tanah.
Bencana tersebut juga membawa kabar duka. Dalam kejadian longsor terpisah di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, pada Sabtu (31/10/2026), seorang ayah dan putrinya meninggal dunia setelah rumah mereka tertimpa material tanah.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ancaman bencana tidak hanya berasal dari luapan sungai, tetapi juga ketidakstabilan lereng ketika hujan turun dalam intensitas tinggi.
Sementara itu, di Kabupaten Malang, banjir menggenangi sejumlah kawasan permukiman di Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Ampelgading. Longsor juga sempat mengganggu jalur transportasi. Di Pacitan dan Bondowoso, material tanah merusak rumah warga, sedangkan luapan sungai serta gangguan drainase dilaporkan terjadi di beberapa lokasi di Jember dan Banyuwangi.
Di tengah dampak kerusakan tersebut, upaya penanganan mulai menunjukkan perkembangan. Kapolda Jawa Timur Irjen Dekananto Eko Purwono pada Rabu (4/11/2026) menyampaikan bahwa jalur darat menuju wilayah Lumajang yang sebelumnya terisolasi sudah dapat ditempuh untuk penyaluran bantuan.
Meski demikian, BPBD mengingatkan sejumlah jembatan belum berfungsi optimal dan akses masyarakat masih berpotensi terganggu apabila banjir kembali terjadi.
Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi sejak 2 November 2026. Petugas gabungan BPBD, TNI, Polri, dan instansi terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan kerusakan, pembersihan material longsor, serta pemantauan debit sungai.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai maupun lereng rawan longsor agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan bencana susulan.
Rangkaian bencana ini memperlihatkan pentingnya kesiapan infrastruktur dan sistem peringatan dini di daerah rawan. Penanganan darurat memang menjadi langkah pertama, tetapi pemulihan akses jalan, pemeriksaan kondisi tanggul dan jembatan, serta perlindungan permukiman berisiko juga membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Sebab, ketika hujan deras kembali datang, keselamatan warga tidak boleh hanya bergantung pada cepat atau lambatnya bantuan tiba.
(Red)
