Smashnews. Gempol, Pasuruan — Semangat pengabdian menemukan maknanya ketika ilmu dan tradisi berpadu dalam satu visi perjuangan. Di Dusun Tempel, Desa Legok, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Pesantren Roudlotun Nafiiyah terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang meneguhkan akar tradisi sekaligus membuka cakrawala keilmuan global.
Pesantren ini didirikan pada tahun 2016 oleh KH. Nawawi Baidlowi, putra daerah Desa Mindi, Porong, Sidoarjo. Pada awalnya, pesantren berdiri di kampung halaman sang pendiri. Namun, bencana lumpur Lapindo yang melanda wilayah Porong membawa dampak besar bagi masyarakat setempat, termasuk keluarga besar pesantren.
Peristiwa tersebut menjadi titik balik perjalanan pesantren. Aktivitas pendidikan kemudian dipindahkan ke Dusun Tempel, Desa Legok, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Di lokasi baru ini, semangat dakwah dan pendidikan kembali dirintis dan diperkuat secara bertahap.
Estafet kepemimpinan kini dilanjutkan oleh putra beliau, H. M. Sabiq Al Hadi yang akrab disapa Gus Sabiq. Ia merupakan alumni program sarjana dan magister di Maroko, negara yang dikenal sebagai salah satu pusat studi keislaman dunia, termasuk melalui institusi bersejarah seperti Universitas Al-Qarawiyyin.
Keputusan Gus Sabiq untuk kembali ke tanah air menjadi bagian dari komitmen pengabdian. Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di luar negeri kini didedikasikan untuk memperkuat sistem pendidikan di lingkungan pesantren.
“Pulang bukan berarti selesai belajar, tetapi mulai mengabdi,” ungkapnya saat ditemui di kompleks pesantren.
Di bawah kepemimpinannya, sejumlah penguatan dilakukan, antara lain pendalaman kajian kitab turats, peningkatan kompetensi bahasa Arab santri, serta penanaman nilai-nilai keislaman yang moderat dan kontekstual. Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang kokoh dalam tradisi, namun adaptif terhadap perkembangan zaman.
Perpaduan antara karakter pesantren salaf dengan pengalaman akademik internasional menjadi warna tersendiri bagi Pesantren Roudlotun Nafiiyah. Lembaga ini tidak hanya mempertahankan warisan keilmuan pendiri, tetapi juga berupaya menyiapkan santri agar memiliki wawasan yang lebih luas.
Dari Desa Mindi yang terdampak bencana hingga berdiri kokoh di Legok, perjalanan pesantren ini menjadi gambaran keteguhan dalam menjaga visi. Bangunan boleh berpindah, namun nilai dan pondasi perjuangan tetap dijaga.
Memasuki fase kepemimpinan generasi kedua, Pesantren Roudlotun Nafiiyah menatap masa depan dengan langkah yang lebih terarah: memperkuat pondasi, memperluas jaringan keilmuan, serta menyiapkan santri yang berakar kuat dalam tradisi dan siap berkontribusi bagi masyarakat.
(Ich)
